Aturan Niaga Online Batin (hati) Fiqih Muamalah

Aturan Niaga Online Batin (hati) Fiqih Muamalah

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah puji Lomba HKG dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, shalawat dan rukun supaya tercurah bersama-sama Baginda Nabi Muhammad SAW.

Melihat fenomena sekarang ini, dimana teknologi semakin hebat, internet gampang didapat lagi gampang dipakai dan irit meriah. Para pelaksana komersial sangat jaga-jaga cek kesempatan tersebut beserta membentuk jaringan maupun website jatah memperjualbelikan produknya atau istilahnya jual beli maupun komersial online.

Tentunya kita umat Islam mungkin sebagai pelaksana maupun pemakai batin (hati) jual harus awas melihat fenomena bisnis online tersebut, khawatir apa pun yg kita lakukan tak sesuai lagi syariat yg diajarkan sang Baginda Rasulullah SAW.

Pada tulisan ini awak mau mencoba menyebutkan bagaimana aturan kulak online sinkron lagi fiqih muamalah yg disepakati oleh ulama pada masa ini. Mereka sangat cermat dan babak ini sehingga mereka terdapat yang mengeluarkan fatwa kemampuan dan ketidakbolehan bisnis online ini dari dalil al qur’an, as sunnah, ijma’ lagi qiyas.

Sebagaimana hukum komersial berisi Islam, Para Ulama searah maka transaksi yang disyaratkan kontan serah terima harta dan duit tak termakbul jatah dilakukan secara telepon atau internet (online), bagaikan dagang emas lalu perak karena ini tercantum riba nasi’ah. Kecuali sesuatu yg diperjualbelikan menemui diserahterimakan pada sekon itu pula, bagaikan penggantian doku asing via ATM maka hukumnya boleh lantaran penukaran koin rupiah bersama Dollar harganya sinkron bersama kurs pada hari itu.

Untuk kekayaan yg tidak disyaratkan serah terima tunai berisi jual belinya, merupakan seluruh ragam kekayaan, selain emas bersama perak lagi dolar dan sampai-sampai jual beli via internet (jual beli online), dapat ditakhrij dan komersial lewat surat menyurat. Adapun kulak melalu telepon bersama internet ialah dagang eksklusif berarti (maksud) ikrar ikrar dan qabul.

Sebagaimana diputuskan oleh Majma’ Al Fiqh Al Islami (Divisi Fiqih OKI) putusan no. 52 (3/6) tahun 1990, yang berbunyi “Apabila kesepakatan berlangsung ganggang rangkap orang yg berjauhan tak mampu berbobot satu majlis lalu pelaksana transaksi, satu dengan lainnya tidak saling memeriksa, tidak saling mendengar saudara transaksinya, lagi fasilitas celah mereka yakni garisan maupun arsip ataupun perseorangan suruhan, babak ini memperoleh diterapkan pada faksimili, teleks, lagi layar komputer (internet). Maka kata sepakat berlaku lalu sampainya iktikad lalu qabul pada masing-masing kubu yg tawar menawar. Bila pembelian berlaku berisi satu lama sedang ke 2 pisah kubu mampu pada tempat yang berjauhan, bab ini menemui diterapkan dalam pembelian dengan telepon ataupun telepon seluler, dan sampai-sampai akad beserta qabul yg berlaku merupakan langsung seolah-olah keduanya berada berbobot satu ruang.”

Dalam pembelian mengunakan internet, pengadaan aplikasi permohonan harta oleh golongan penjual di website adalah ikrar bersama pengisian serta alokasi pelaksanaan yang sudah pernah diisi oleh pembeli yaitu qabul. Adapun barang cuma memperoleh dicermati gambarnya dan dijelaskan spesifikasinya bersama gamblang bersama utuh, dengan pengertian yg dapat mensugesti dana jual kekayaan.

Setelah ikat janji qabul, partai penjual mempersilakan pembeli melakukan tranfer koin ke rekening bank milik penjual. Setelah koin masuk, si penjual aktual menyuplai barangnya dengan pengantar ataupun amal alokasi kekayaan.

Jadi, Transaksi bagaikan ini (niaga online) secara umum dikuasai para Ulama menghalalkannya saat bukan terdapat unsur gharar maupun ketidakjelasan, dengan memberikan serpih bagus berupa goresan, golongan, warna, desain, model dengan yang mempengaruhi harga harta.

PEMILIK SITUS MERUPAKAN WAKIL (AGEN) DARI PEMILIK BARANG

Apabila pemilik situs/ website yaitu orang yg bukan pemilik harta akan tetapi telah mewujudkan ikrar lagi pemilik harta agar dia diberi pendampingmenjualkan barangnya lalu mendapatkan komisi persentase yg sudah pernah disepakati lalu, dan sampai-sampai bidang inipun termakbul lantaran hakikatnya utusan hukumnya menyerupai lalu pemilik harta.

Sebagaimana sejarah Jabir Bin Abdullah r.a. beliau menyampaikan, “Aku hajat pergi mendekati Khaibar, lalu aku mendatangi Rasulullah SAW, kami baca nyaman kepadanya sambil antar bahwa awak mau pergi ke Khaibar, dan sampai-sampai Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bila engkau mendataangi wakilku pada Khaibar ambillah darinya 15 wasq Kurma, Jika dirinya mempersilakan bahan (bahwa engkau yaitu wakilku) dan sampai-sampai letakkanlah tanganmu ti atas tulang bawah lehernya” (HR Abu Daud. Menurut Ibnu Hajar sanad hadits ini Hasan).

PEMILIK SITUS BUKAN PEMILIK BARANG

Pada masalah ini seseorang pembeli menyurati pedagang harta dan memasok aplikasi yang sebetulnya tanpa melakukan komitmen kulak, melulu sebatas verifikasi keberadaan kekayaan, selesai memeluk keberadaan harta, terus si penjual memengaruhi konsumen menyuplai uang ke rekeningnya. Setelah arta ia terima barulah sira membayar barang tersebut beserta mengirimkannya kepada konsumen.

Apabila pemilik situs menampakkan kekayaan namun tak pemilik benda tersebut, dan sampai-sampai para Ulama sependirian bahwa tidak legal aturan jual belinya karena mengandung elemen gharar disebabkan pada momen kesepakatan terbentuk pedagang belum menemui meyakinkan apakah benda memperoleh dia kirimkan maupun tidak.

Sebagaimana perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yg diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, seorang masuk kepadaku jatah membayar suatu benda, bertepatan barang tadi padahal bukan kumiliki, apakah boleh aku menjualnya kemudian kami membeli barang yg diinginkannya mulai pasar? Maka Nabi SAW menghadapi, “Jangan kau jual harta yg belum kau miliki.” (HR. Abu Daud).

Solusi Syar’i

Supaya kulak online semacam ini ingin sebagai legal, dan sampai-sampai pemilik situs berhasil melaksanakan jenjang-tahap sesudah itu:

Beritahu bahwa setiap kader pembeli maka pengadaan aplikasi penagihan kekayaan bukan berarti iktikad mulai penjual (pemilik situs)

Setelah calon pembeli memenuhi pelaksanaan bersama mengirimkannya, pemilik situs tak boleh pribadi kata sepakat jual beli tapi harus membeli dulu barang berawal pemilik harta bahwasanya dengan ia terima barangnya. Kemudian anyar dia menimpali permohonan konsumen dan memintanya mentransfer doku ke rekening miliknya terus kekayaan dikirim kepada pembeli lagi jaminan kekayaan sesuai beserta di gambar beserta spesifikasinya. Untuk mencegah kerugian efek konsumen dengan niaga online menakjubkan pulih maksud maupun mengurungkan jual belinya, maka si pemilik situs cipta amanah selama tempo tunggu (tiga hari) dia berhak mengembalikan kekayaan pada pemilik kekayaan yg sebetulnya.

Jadi, Jual belanja online bagai ini dihalalkan lagi keuntungannya kendati sebagai halal.

Wallahu a’lam bis shawab.

Rujukan Buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, M.A

Silahkan Anda Membaca Artikel Yang Lain:

Hukum Riba Menurut Islam Yang Wajib Kita Ketahui

Hukum Arisan Menurut Fiqih Muamalah

Hukum Jual Beli Kredit Menurut Islam

Bagi Sahabat yg ingin memesan madu Arab Al Shifa silahkan Klik Gambar lalu:

Leave a Reply